Kota Surabaya Duduki Peringkat Pertama Realisasi Investasi PMA/PMDN Triwulan II 2021
21347
post-template-default,single,single-post,postid-21347,single-format-standard,bridge-core-1.0.6,ajax_fade,page_not_loaded,boxed,,qode-theme-ver-18.2,qode-theme-bridge,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive
 

Kota Surabaya Duduki Peringkat Pertama Realisasi Investasi PMA/PMDN Triwulan II 2021

dpmptsp.jatimprov.go.id – Di periode Triwulan-II tahun 2021, Jatim mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp 17,7 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari PMA sebesar Rp 3,8 triliun dan PMDN sebesar Rp 13,9 triliun. Di mana sajakah lokasi investasi tersebut?

Kota Surabaya menduduki peringkat pertama total realisasi PMA dan PMDN di Jatim dengan mencatatkan angka Rp 5,8 triliun setara dengan 32,5% dari total se-Jatim, dipepet Kab.Gresik dengan kontribusi 20,2% di posisi kedua dengan realisasi Rp 3,6 triliun. Kemudian di urutan ketiga Kab. Pasuruan (Rp 1,9 triliun, 10,7%), diikuti Kota Kediri (Rp 1,6 triliun, 9%) dan Kab. Sidoarjo (Rp 1,1 triliun, 6,1%).

Jika dibedah per kategori, di sisi PMA Kota Surabaya mencapai realisasi tertinggi dengan menyumbang Rp 1,7 triliun setara dengan 43,9% dari total se-Jatim, disusul Kab. Pasuruan (Rp 1,2 triliun, 32%), Kab.Mojokerto (Rp 0,22 triliun, 5,7%), Kab. Gresik (Rp 0,2 triliun, 5,2%) dan di posisi kelima Kab. Malang (Rp 0,19 triliun, 5%).

Sedangkan untuk kategori PMDN, Kota Surabaya mencatatkan angka tertinggi sebesar Rp 4,1 triliun setara dengan 29,3% dari total se-Jatim, disusul Kab. Gresik (Rp 3,4 triliun,24,3%), Kota Kediri (Rp 1,6 triliun, 11,5%), Kab. Sidoarjo (Rp 1,1 triliun, 7,6%) dan Kab. Malang di posisi kelima dengan capaian Rp 0,9 triliun (kontribusi 6,2%).

Dari sisi negara asal, kontributor utama investasi asing di Jatim adalah Belanda dengan realisasi sebesar Rp 1,3 triliun setara dengan 33,1% nilai realisasi PMA se-Jatim, disusul Korea Selatan dengan kontribusi sebesar Rp 0,7 triliun (17,9%), Singapura (Rp 0,5 triliun, 12,6%), Amerika Serikat (Rp 0,5 triliun, 12,3%), dan Malaysia di posisi kelima (Rp 0,4 triliun, 9,4%).(aif)